Di tengah meningkatnya minat mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi luar negeri, program beasiswa LPDP kembali menjadi perhatian banyak pihak. Bagi mahasiswa dan alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta, peluang ini bukan sekadar mimpi, tetapi sesuatu yang nyata dan bisa diraih.
Salah satu buktinya adalah Dr. Alva Hendi Muhammad, S.T., M.Eng., Ph.D., dosen AMIKOM sekaligus Ketua Program Studi S3 Informatika, yang pernah menjadi penerima beasiswa LPDP untuk studi doktoral di Australia. Perjalanan beliau bukan hanya tentang sukses akademik, tetapi tentang bagaimana mempersiapkan diri dengan matang dan kembali untuk berkontribusi di Indonesia.
Melalui wawancara yang penuh refleksi, Dr. Alva berbagi pengalaman mulai dari proses lolos seleksi LPDP, dinamika studi doktoral di Australia, hingga kontribusi nyata yang kini beliau wujudkan di AMIKOM.
Pengalaman Studi di Luar Negeri: Belajar Rendah Hati dan Kolaboratif
Dr. Alva merupakan penerima LPDP pada angkatan awal program tersebut. Ia memperoleh beasiswa pada tahun 2013 dan berangkat ke Australia pada 2014 untuk menempuh studi S3 di bidang Teknologi Informasi. Beliau memulai studi doktoralnya di University of Wollongong dan kemudian menyelesaikannya di University of Technology Sydney, mengikuti perpindahan promotornya. Selama kurang lebih empat tahun, beliau menjalani kehidupan sebagai peneliti junior di lingkungan akademik bertaraf dunia.
Berbeda dengan bayangan banyak orang tentang kuliah S3, studi doktoral di Australia sangat menekankan riset dan kolaborasi. Mahasiswa tidak sekadar duduk di kelas, tetapi aktif di laboratorium, berdiskusi dengan promotor, dan terlibat dalam forum ilmiah internasional. Lingkungan akademik tersebut membuka perspektif baru baginya.
“Dengan banyaknya orang-orang hebat itu, saya merasa kecil. Ilmu yang kita miliki bukan untuk disombongkan, tapi untuk kolaborasi.”
Di kampusnya, tamu akademik dari berbagai negara datang hampir setiap bulan, dari Jerman, Amerika, Jepang, hingga universitas kelas dunia lainnya. Budaya diskusi ilmiah yang egaliter dan kolaboratif membuatnya menyadari bahwa pengetahuan berkembang melalui kerja bersama, bukan kompetisi semata.
Peran promotor pun sangat signifikan. Di tahun pertama, hubungan terasa formal seperti dosen dan mahasiswa. Namun, memasuki tahun kedua dan ketiga, relasi berkembang menjadi diskusi setara dan kolaborasi ilmiah.
“Keberhasilan saya di S3, 90% karena promotor,” ungkapnya jujur.
Selain pengalaman akademik, beliau juga melihat perbedaan sistem pendidikan di Australia, terutama di jenjang dasar. Anak-anak didorong untuk mengeksplorasi minat dan belajar melalui pengalaman, bukan sekadar hafalan. Perspektif ini memperkaya cara pandangnya tentang pendidikan yang humanis dan berbasis eksplorasi.
Kembali ke Indonesia: Mengabdi dan Membangun Ekosistem Riset
Setelah menyelesaikan studi doktoral, Dr. Alva kembali ke Indonesia dan melanjutkan pengabdian sebagai dosen Amikom. Baginya, kembali ke tanah air bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi panggilan untuk berkontribusi.
Sebagai dosen, ia menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, baik mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya itu, Setelah mendapat amanah menjadi Ketua Program Studi S3 Informatika AMIKOM, beliau juga membawa nilai-nilai yang ia pelajari di luar negeri ke dalam sistem pendidikan kampus.
Ada dua pilar utama yang ia tekankan dalam pengembangan program doktoral di AMIKOM:
- Kemandirian Riset
Lulusan doktor harus mampu meneliti secara mandiri dan menjadi penggerak keilmuan di institusinya masing-masing. - Leadership
Lulusan tidak hanya menjadi akademisi, tetapi juga pemimpin di bidangnya.
Program S3 Informatika AMIKOM dirancang dengan skema doctoral by research, menekankan riset mendalam daripada sekadar perkuliahan berbasis coursework. Mahasiswa dibimbing untuk memahami proses penelitian dari dasar hingga menghasilkan kontribusi ilmiah yang nyata.
“Kita ingin lulusan doktor AMIKOM menjadi pemimpin dan mandiri dalam riset,” tegasnya.
Pesan untuk Mahasiswa AMIKOM: Berani Bermimpi, Siapkan Diri
Banyak mahasiswa menganggap seleksi LPDP sangat kompetitif dan “menyeramkan”. Namun menurut Dr. Alva, perspektif ini perlu diluruskan.
“Saingannya bukan dengan orang lain, tapi saingannya dengan diri sendiri.”
Baginya, seleksi beasiswa LPDP bukan hanya soal wawancara atau administrasi, tetapi tentang bagaimana perjalanan hidup, rekam jejak, dan visi masa depan seseorang dinilai secara utuh. Track record riset, pengalaman mengajar, hingga kejelasan rencana studi menjadi poin penting. Track record tidak bisa dibuat dalam semalam. Ia lahir dari kebiasaan belajar, konsistensi, dan keberanian mencoba.
Mahasiswa AMIKOM sebenarnya berada dalam ekosistem yang sangat mendukung. Keterlibatan dalam riset dosen, proyek teknologi, publikasi ilmiah, hingga kompetisi nasional dan internasional menjadi modal kuat.
“Kalau merasa belum pantas, ya dipantaskan dulu.”
Beliau juga mengingatkan bahwa persiapan tidak bisa instan. Kemampuan bahasa Inggris, pengalaman penelitian, dan perencanaan studi harus disiapkan dengan matang. Bahkan untuk jenjang S3, calon penerima beasiswa perlu memiliki kandidat promotor yang jelas.
Keraguan adalah hal yang sangat wajar dirasakan oleh mahasiswa maupun alumni AMIKOM, terlebih melihat betapa kompetitifnya seleksi beasiswa LPDP. Namun, di balik rasa ragu itu selalu ada satu kunci perubahan: keberanian untuk mencoba.
“Sesuatu yang berat itu sering kali hanya karena belum dicoba.”
Dr. Alva menegaskan bahwa banyak mahasiswa yang pernah ia bimbing awalnya merasa tidak cukup percaya diri. Mereka merasa belum unggul, belum sempurna, bahkan belum siap. Namun ketika mereka memutuskan untuk mempersiapkan diri dengan serius, Mulai memperbaiki kemampuan, memperkuat track record, dan memperjelas visi. hasilnya justru bisa melampaui ekspektasi.
Beasiswa LPDP bukanlah milik segelintir orang dengan latar belakang luar biasa. Program ini terbuka bagi siapa pun yang memiliki komitmen kuat, konsistensi dalam usaha, dan visi yang jelas untuk berkontribusi bagi Indonesia.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration WIth : Alva Hendi Muhammad




