Yogyakarta, 20 November 2025 – Setara, aplikasi penerjemah BISINDO dua arah berbasis kecerdasan buatan, menjadi sorotan nasional setelah berhasil membawa Hasan, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, meraih tiga penghargaan pada ajang UMi Youthpreneur 2025. Keberhasilan ini semakin mengukuhkan posisi Setara sebagai inovasi yang relevan dan berdampak bagi komunitas Tuli di Indonesia. Tidak hanya itu, aplikasi ini juga pernah meraih Juara 2 Lomba Startpreneur 2025 Business Plan Competition di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), menjadikannya salah satu proyek mahasiswa yang konsisten menunjukkan performa unggul di berbagai kompetisi nasional. Penghargaan dan konsistensi ini menunjukkan bahwa Setara bukan sekadar ide, melainkan proyek serius dengan potensi besar untuk diimplementasikan secara nyata.
Rahmat Nur Hasan Raih Tiga Penghargaan pada UMi Youthpreneur 2025
Setara dikembangkan oleh Hasan bersama dua rekannya, Rahaditomo Noto Susanto dan Nevin Zulfianda Pradana, yang tergabung dalam satu tim pengembangan. Ketiganya berkolaborasi untuk menciptakan teknologi yang mampu mempermudah komunikasi antara teman Tuli dan masyarakat umum tanpa hambatan bahasa. Inisiatif ini berangkat dari pengalaman pribadi Hasan sebagai penyandang disabilitas Tuli, yang melihat masih besarnya kesenjangan komunikasi di berbagai aspek layanan publik, pendidikan, dan lingkungan kerja. Kolaborasi ketiganya memperlihatkan semangat gotong-royong dan komitmen kuat untuk membangun teknologi inklusif yang dirancang dengan memperhatikan kebutuhan nyata komunitas Tuli.


Aplikasi Setara hadir sebagai solusi yang memungkinkan komunikasi dua arah melalui teknologi AI. Tujuan utamanya adalah menyediakan alat komunikasi yang inklusif, mudah diakses, dan dapat digunakan dalam situasi sehari-hari. Hasan menjelaskan bahwa Setara diharapkan dapat mendukung teman Tuli agar memiliki akses yang lebih setara terhadap informasi dan layanan.
“Saya ingin menghadirkan jembatan komunikasi yang memudahkan teman-teman Tuli berinteraksi tanpa hambatan bahasa,” ungkapnya. Dengan fitur ini, Setara diharapkan membantu mengatasi kesenjangan akses informasi dan layanan bagi penyandang Tuli di seluruh Indonesia sebuah langkah kecil menuju masyarakat yang lebih inklusif.
Secara fungsional, Setara memiliki dua fitur utama yang menjadi inti teknologi aplikasinya. Fitur Gesture-to-Text (Pahami) memungkinkan pengguna menerjemahkan gerakan BISINDO menjadi teks secara real-time menggunakan kamera. Fitur Voice/Text-to-Gesture (Sampaikan) memungkinkan terjemahan dari suara atau teks ke gerakan BISINDO melalui avatar 3D. Selain itu, Setara juga menyediakan menu edukasi BISINDO dasar, yang dirancang sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memahami kosakata bahasa isyarat. Keberadaan fitur ini memperluas fungsi Setara, bukan hanya sebagai alat bantu komunikasi, tetapi juga sebagai media edukasi publik. Fitur edukasi ini bisa membuka pintu bagi masyarakat umum untuk belajar BISINDO, sehingga komunikasi inklusif bisa meluas, tidak hanya di kalangan penyandang disabilitas.
Proses pengembangan Setara telah berlangsung sekitar enam bulan. Tim memulai dengan riset mendalam terhadap pengguna dan kebutuhan komunitas Tuli, kemudian melanjutkan dengan validasi masalah dan pembuatan prototype atau MVP. Setara juga telah melewati tahap uji coba terbatas kepada beberapa pengguna untuk menilai akurasi model dan kenyamanan penggunaan. Dalam perjalanannya, tim pengembang mengikuti pelatihan di UMi Youthpreneur untuk memperkuat aspek teknis, bisnis, dan strategi implementasi aplikasi. Saat ini, pengembangan Setara diarahkan pada peningkatan akurasi AI, optimasi integrasi API, serta persiapan untuk perilisan resmi di Google Playstore. Tim juga berencana mendokumentasikan proses pengembangan serta menyusun panduan penggunaan agar Setara dapat diterima dengan baik oleh berbagai kalangan, termasuk sekolah, kampus, dan instansi layanan publik.
Yusuf Amri Amrullah, S.E., M.M., Ketua ADEL (AMIKOM Disability Empowerment & Learning), menyampaikan bahwa Setara sangat membantu mahasiswa disabilitas Tuli dalam aktivitas akademik. “Platform Setara ini sangat bermanfaat dalam membantu mahasiswa disabilitas Tuli. Penggunaannya juga sangat mudah dan tidak rumit. Sangat membantu dalam kegiatan belajar mengajar dan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa Setara masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik dari sisi produk maupun bisnis, agar manfaatnya dapat menjangkau bidang pekerjaan dan masyarakat yang lebih luas.
Kehadiran Setara menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan inklusi sosial di Indonesia. Dengan fondasi yang kuat dan pengembangan yang terus berlanjut, Setara diharapkan mampu menjadi alat bantu komunikasi yang bermanfaat tidak hanya bagi komunitas Tuli, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ingin memahami BISINDO.
Hasan menutup harapannya dengan pesan sederhana namun kuat, “Saya ingin Setara menjadi jembatan komunikasi yang benar-benar inklusif untuk teman-teman Tuli di seluruh Indonesia.”.
Semangat ini menjadi panggilan bagi berbagai pihak komunitas, institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat umum, untuk mendukung dan bersama-sama mewujudkan akses komunikasi yang adil dan setara.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration With : Rahmat Nur Hasan




