BPC Podcast INTERPENSI 09 – Hardi Setia Ramdhani, S.Kom

13 March 2026 | Berita Utama

Business Placement Center dan Alumni (BPC) Universitas AMIKOM Yogyakarta kembali menghadirkan INTERPENSI (Interaksi Penuh Inspirasi) sebagai program podcast inspiratif yang dirancang untuk menjadi ruang berbagi gagasan, refleksi, dan motivasi bagi mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas. Dikemas dalam format obrolan santai namun berbobot, program ini menjadi salah satu inisiatif BPC untuk menghadirkan konten yang tidak hanya relevan dengan pengembangan karier, tetapi juga membuka wawasan tentang berbagai sektor yang kini bersinggungan erat dengan teknologi. Dalam rangkaian episode Ramadan, INTERPENSI hadir sebagai teman ngabuburit virtual yang mengajak audiens menikmati diskusi penuh makna melalui siaran langsung di kanal digital BPC.

Hardi Setia Ramdhani, S.Kom : Transformasi Digital di Dunia Pertanian

Pada episode kesembilan, INTERPENSI menghadirkan Hardi Setia Ramdhani, S.Kom, alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta yang memiliki latar belakang kuat di bidang teknologi, mulai dari masa SMK di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, kuliah dengan konsentrasi pemrograman, hingga merintis usaha di bidang IT dari penjualan CCTV sampai software house. Menariknya, perjalanan karier Hardi kemudian membawanya masuk ke sektor peternakan dan pertanian, berangkat dari pengalaman keluarga yang memiliki usaha ternak puyuh. Dari titik itulah ia mulai melihat bahwa teknologi tidak harus berhenti di layar komputer, tetapi juga bisa hadir langsung di lapangan untuk membantu sektor riil, khususnya pertanian dan peternakan.

Dalam podcast bertema “Transformasi Digital di Dunia Pertanian”, Hardi menjelaskan bahwa digitalisasi di sektor pertanian pada dasarnya adalah upaya mengubah cara kerja tradisional menjadi lebih berbasis data dan teknologi. Menurutnya, langkah paling mendasar justru dimulai dari hal yang sederhana, yaitu pencatatan. Di dunia peternakan puyuh yang ia jalani, data harian seperti angka kematian, jumlah produksi telur, hingga kebutuhan pakan menjadi informasi yang sangat penting untuk menentukan langkah usaha ke depan. Karena itu, transformasi digital bukan semata tentang alat yang rumit, tetapi tentang bagaimana data yang sebelumnya tercecer bisa dikumpulkan, dibaca, dan dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan. Dari sinilah, teknologi mulai memberi dampak nyata bagi petani dan peternak.

Hardi juga menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam penerapan teknologi pertanian sebenarnya bukan terletak pada teknologinya itu sendiri, melainkan pada mindset dan proses adaptasi. Menurutnya, banyak pelaku pertanian yang masih terbiasa dengan cara kerja lama dan belum melihat bahwa teknologi justru bisa membuat pekerjaan mereka lebih ringan, lebih rapi, dan lebih efisien. Ia mencontohkan bahwa pencatatan yang sebelumnya dilakukan oleh beberapa orang secara manual kini dapat disederhanakan menjadi sistem digital yang jauh lebih cepat dan mudah dipantau. “Teknologi itu seharusnya membuat pekerjaan lebih sederhana,” menjadi gagasan utama yang ia sampaikan. Dalam pandangannya, transformasi digital akan berjalan lebih cepat jika para pelaku pertanian mulai melihat teknologi bukan sebagai beban baru, tetapi sebagai alat bantu untuk bekerja dengan lebih cerdas.

Lebih jauh, Hardi memaparkan bahwa peluang bagi generasi muda, khususnya lulusan bidang teknologi, sangat terbuka di sektor pertanian. Menurutnya, pertanian hari ini membutuhkan sistem, data, aplikasi, IoT, sensor, analisis pasar, hingga otomatisasi yang semuanya membutuhkan sentuhan orang-orang dengan latar belakang teknologi. Ia memberi contoh bagaimana smart farming di greenhouse melon, sistem penetasan telur puyuh berbasis IoT, hingga analisis tren harga pasar berbasis data dapat menjadi ruang inovasi yang nyata. Karena itu, sektor pertanian tidak lagi bisa dipandang sebagai bidang yang sepenuhnya tradisional. Justru di sanalah terdapat banyak ruang kosong yang bisa diisi oleh ide-ide baru dari generasi muda. Hardi bahkan menilai bahwa sektor ini adalah “ladang inovasi yang sangat luas” bagi mereka yang ingin menggabungkan teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Dalam pengalaman yang ia jalani, teknologi juga membawa perubahan besar pada efisiensi kerja dan ketepatan pengambilan keputusan. Dengan dukungan sistem digital, ia tidak lagi harus selalu datang ke kandang untuk melihat semua proses secara langsung. Data produksi, kondisi operasional, hingga pergerakan pasar bisa dipantau dari rumah. Di sisi lain, ia juga mencontohkan bahwa teknologi seperti drone, sensor, aplikasi manajemen, dan analisis berbasis AI kini mulai masuk ke berbagai sektor pertanian di Indonesia. Semua itu menunjukkan bahwa pertanian modern bergerak menuju sistem yang lebih terukur, lebih prediktif, dan lebih siap menghadapi tantangan seperti perubahan cuaca, efisiensi biaya, serta fluktuasi pasar. Bagi Hardi, masa depan pertanian sangat ditentukan oleh kemampuan pelakunya dalam memanfaatkan data dan teknologi secara tepat.

Pada bagian akhir, Hardi menyampaikan pesan yang kuat kepada generasi muda bahwa persoalan utamanya bukan karena mereka tidak tertarik pada pertanian, tetapi karena pertanian sering kali belum tampil dalam wajah yang baru. “Generasi muda itu bukannya tidak tertarik pada pertanian, tapi pertanian yang tidak berubah itu yang jadi masalah,” ujarnya. Karena itu, ia meyakini bahwa jika pertanian dipadukan dengan teknologi, maka sektor ini akan menjadi bidang yang jauh lebih menarik, menjanjikan, dan relevan untuk masa depan.

Sebagai alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta, Hardi juga menegaskan bahwa latar belakang teknologi yang ia peroleh selama kuliah menjadi fondasi penting dalam membangun berbagai sistem yang kini ia terapkan di sektor pertanian dan peternakan. Pandangan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa teknologi tidak hanya hidup di dunia startup atau aplikasi, tetapi juga bisa memberi dampak langsung bagi sektor-sektor penting yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Bagi audiens yang ingin menyimak pembahasan lengkapnya, video podcast INTERPENSI dapat ditonton lebih lanjut melalui tautan YouTube berikut ini:

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Puji Ariningsih