BPC Podcast INTERPENSI 08 – F. Riyan Aji Pangestu, S.Kom

11 March 2026 | Berita Utama

Business Placement Center dan Alumni (BPC) Universitas AMIKOM Yogyakarta kembali menghadirkan INTERPENSI (Interaksi Penuh Inspirasi) sebagai program podcast inspiratif yang dirancang untuk menjadi ruang berbagi gagasan, refleksi, dan motivasi bagi mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas. Dikemas dalam format obrolan santai namun berbobot, program ini menjadi salah satu inisiatif BPC untuk menghadirkan konten yang tidak hanya relevan dengan pengembangan karier, tetapi juga membuka wawasan tentang perkembangan teknologi dan keterampilan masa depan yang dibutuhkan generasi muda. Dalam rangkaian episode Ramadan, INTERPENSI hadir sebagai teman ngabuburit virtual yang mengajak audiens menikmati diskusi penuh makna melalui siaran langsung di kanal digital BPC.

F. Riyan Aji Pangestu, S.Kom : AI For Programmer

Pada episode kedelapan, INTERPENSI menghadirkan F. Riyan Aji Pangestu, S.Kom, alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta yang membahas tema “AI for Programmer.” Riyan memiliki latar belakang yang menarik karena pada awalnya ia tidak langsung fokus pada dunia pemrograman. Saat masih di SMK, ia lebih banyak mendalami bidang jaringan. Namun ketika menempuh perkuliahan di Universitas AMIKOM Yogyakarta, ia akhirnya masuk ke konsentrasi pemrograman dan justru menemukan ketertarikan yang kuat di bidang tersebut. Dari pengalaman itulah, Riyan memahami bahwa coding bukan hanya soal menulis perintah, tetapi juga soal logika, alur berpikir, dan kemampuan menerjemahkan ide menjadi sistem yang bisa berjalan dengan baik.

Dalam perbincangan tersebut, Riyan menjelaskan bahwa perkembangan artificial intelligence saat ini memang membawa perubahan besar dalam dunia pemrograman. Menurutnya, AI sudah menjadi bagian dari proses kerja programmer, mulai dari membantu auto complete, debugging, hingga menghasilkan struktur program berdasarkan instruksi tertentu. Namun ia menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti penuh programmer. Sebaliknya, AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu atau asisten kerja yang dapat mempercepat proses. Dalam pandangannya, peran programmer saat ini justru sedang mengalami pergeseran, dari yang sebelumnya banyak menulis dan mengeksekusi kode secara penuh, menjadi lebih banyak berperan sebagai evaluator, reviewer, dan pengarah proses pengembangan. “AI itu sebenarnya ngebantu nge-scale up kita,” jelasnya.

Riyan juga menekankan bahwa dasar pemrograman tetap menjadi hal yang sangat penting. Menurutnya, programmer harus tetap memahami logika, struktur data, alur program, serta konteks dari sistem yang sedang dibangun. Tanpa pemahaman tersebut, hasil dari AI hanya akan diterima mentah-mentah tanpa benar-benar dipahami kualitas dan ketepatannya. Ia mengingatkan bahwa AI tetap bisa salah, bisa kehilangan konteks, bahkan bisa menghasilkan solusi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, keputusan akhir tetap harus berada di tangan manusia. “Yang menentukan keputusan kode AI itu kita pakai atau enggaknya tetap dari programmer,” ungkapnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun AI semakin canggih, peran manusia dalam berpikir kritis dan mengambil keputusan tetap tidak tergantikan.

Dalam konteks pembelajaran, Riyan melihat AI justru bisa menjadi sarana yang sangat membantu bagi mahasiswa maupun programmer pemula. AI dapat digunakan untuk memahami use case, mempelajari konsep dengan bahasa yang lebih sederhana, hingga membantu melihat alternatif solusi dari suatu persoalan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap harus disertai kemauan belajar. Bagi Riyan, AI akan sangat bermanfaat jika dipakai untuk mendukung proses berpikir, bukan untuk menghindari proses tersebut. Mahasiswa tetap harus rajin mencoba, membangun use case kecil, mengerjakan proyek sederhana, dan memahami bagaimana sebuah program bekerja dari awal hingga akhir. Dengan begitu, AI akan menjadi partner belajar yang mempercepat pertumbuhan, bukan justru membuat kemampuan dasar menjadi lemah.

Lebih jauh, Riyan memandang bahwa masa depan profesi programmer tidak akan hilang, tetapi akan berkembang ke arah yang berbeda. Programmer tetap dibutuhkan, hanya saja tuntutannya semakin luas. Selain menguasai dasar coding, mereka juga perlu memahami cara memberi konteks kepada AI, melakukan testing, membaca hasil generate kode, serta memastikan sistem yang dibangun tetap aman dan berkualitas. Ia juga menilai bahwa peluang di bidang pemrograman masih sangat terbuka, baik di jalur profesional, freelance, remote working, maupun pengembangan produk digital sendiri. Dalam situasi seperti ini, hal terpenting bagi generasi muda adalah tetap beradaptasi dan tidak berhenti belajar. “Jangan terlalu semua keputusan yang AI kasih itu dipakai secara keseluruhan, tetap kita yang harus ngendaliin,” pesannya kepada mahasiswa dan calon programmer yang saat ini sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja berbasis teknologi.

Bagi audiens yang ingin menyimak pembahasan lengkapnya, video podcast INTERPENSI dapat ditonton lebih lanjut melalui tautan YouTube berikut ini:

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Puji Ariningsih