Mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta Lolos Taiwan Intense Program, Raih Beasiswa di Taiwan Steel University of Science and Technology

10 March 2026 | Berita Utama

Mahasiswa S1 Informatika, Muhamad Daffa Miqoilla meraih beasiswa penuh melalui program INTENSE untuk melanjutkan studi di Taiwan Steel University of Science and Technology bidang Mechanical and Automation Engineering pada Spring 2026 Intake. Melalui program tersebut, Daffa tidak hanya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Taiwan, tetapi juga kesempatan mengikuti magang intensif dan bekerja di perusahaan Taiwan selama dua tahun setelah masa studi dan magang selesai.

Taiwan Intense Program ini merupakan kerja sama internasional yang dijalankan Universitas AMIKOM Yogyakarta bersama sejumlah perguruan tinggi di Taiwan, dengan dukungan Intact Surabaya sebagai perwakilan resmi pemerintah Taiwan untuk pelaksanaan program tersebut di Indonesia.

Prof. Dr. Kusrini, M.Kom., Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas AMIKOM Yogyakarta, menjelaskan bahwa Taiwan Intense Program dirancang untuk tidak hanya menawarkan kesempatan kuliah di luar negeri, tetapi juga menyiapkan peserta untuk masuk ke lingkungan industri di Taiwan melalui tahapan yang tersusun jelas.

Secara umum, Taiwan Intense Program memiliki tiga tahapan utama. Pada tahap pertama, peserta menempuh studi di perguruan tinggi mitra di Taiwan selama satu tahun. Setelah itu, peserta masuk ke tahap magang intensif selama satu tahun di perusahaan mitra. Tahap terakhir adalah bekerja di perusahaan tersebut selama dua tahun. Skema ini menunjukkan bahwa program tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi sejak awal memang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

“SPP di-cover oleh pemerintah Taiwan, sedangkan biaya hidupnya di-cover oleh perusahaan yang bekerja sama,” ujar Prof. Kusrini.

Menariknya, Saat memperoleh beasiswa ini, Daffa masih berstatus mahasiswa aktif di Universitas AMIKOM Yogyakarta, dia saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa S1 Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta. Ia mendaftar menggunakan ijazah D3, kemudian diterima untuk melanjutkan studi S1 di Taiwan melalui jalur 2 Year’s Bachelor Program.

Setelah berkonsultasi dengan Prof. Kusrini dan Eli Pujastuti, M.Kom. (Kepala Program Studi S1 Informatika), Daffa memutuskan untuk menempuh dua jalur pendidikan sekaligus. Ia akan melanjutkan studi di Taiwan Steel University of Science and Technology, sambil tetap menyelesaikan studi S1 Informatika di Universitas AMIKOM Yogyakarta secara daring. Skema ini memungkinkan Daffa menjaga keberlanjutan pendidikannya di Indonesia tanpa harus melepaskan kesempatan studi internasional yang telah ia peroleh.

Keputusan menempuh dua degree sekaligus tentu menuntut kesiapan yang lebih besar. Daffa harus menyesuaikan ritme belajar di dua lingkungan akademik yang berbeda, mengatur waktu secara disiplin, dan tetap menjaga tanggung jawab terhadap seluruh proses studinya. Dengan dukungan pembelajaran daring dan mekanisme transfer kredit, Daffa tetap dapat mengikuti perkuliahan di Universitas AMIKOM Yogyakarta sembari memulai masa studinya di Taiwan.

“Sayang kalau studi yang sudah saya jalani di Universitas AMIKOM Yogyakarta ditinggalkan. Jadi saya pilih tetap lanjut, sambil menjalani kesempatan studi di Taiwan,” kata Daffa.

Proses Seleksi yang Dilalui Daffa

Perjalanan Daffa menuju beasiswa ini bermula dari rasa ingin tahu dan keberaniannya mencari peluang. Ia pertama kali mengetahui program tersebut melalui media sosial, lalu mengikuti sesi sosialisasi secara daring untuk memahami persyaratan dan mekanisme seleksi. Dari sana, ia mulai menyiapkan berkas administrasi yang menjadi tahap awal penilaian.

Dokumen yang harus ia siapkan meliputi sertifikat TOEFL dengan skor minimal 470, surat rekomendasi dari dosen atau kepala program studi, portofolio proyek, transkrip nilai, serta ijazah. Tahap ini menuntut ketelitian karena seluruh dokumen harus lengkap dan sesuai dengan ketentuan program. Bagi Daffa, proses administrasi menjadi fondasi penting sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Setelah lolos seleksi berkas, Daffa mengikuti wawancara dalam bahasa Inggris. Pada tahap ini, pewawancara menggali motivasinya mengikuti program, alasan memilih bidang studi di Taiwan, keunggulan yang ia miliki, dan relevansi proyek yang pernah ia kerjakan dengan jurusan tujuan, yaitu Mechanical and Automation Engineering. Meski berlatar belakang Informatika, Daffa mampu menjelaskan hubungan antara pemahamannya tentang kecerdasan buatan, machine learning, dan logika sistem dengan kebutuhan pengembangan otomasi mesin.

Dalam proses wawancara, peserta juga mendapat pendampingan dari laoshi asal Indonesia yang ditugaskan oleh kampus mitra di Taiwan. Laoshi ini membantu menjelaskan kosakata yang belum dipahami peserta, sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih lancar. Pendampingan tersebut memberi dukungan penting, terutama bagi peserta yang masih menyesuaikan diri dengan penggunaan bahasa Inggris dalam konteks akademik dan seleksi internasional.

Setelah dinyatakan lolos, Daffa menerima offer letter resmi dari Taiwan Steel University of Science and Technology dan dari perusahaan mitra yang akan mendukung pembiayaannya. Dokumen tersebut kemudian menjadi dasar untuk mengurus visa dan legalisasi dokumen keberangkatan.

Selain kesiapan administrasi dan akademik, Daffa juga menyiapkan kemampuan bahasa Mandarin. Prof. Kusrini, menjelaskan bahwa Universitas AMIKOM Yogyakarta bekerja sama dengan Intact Surabaya, mengadakan pelatihan bahasa Mandarin gratis bagi mahasiswa . Pelatihan tersebut memberi bekal awal bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program, sekaligus membantu mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik dan kehidupan sehari-hari di Taiwan.

Setelah tiba di Taiwan, Daffa juga akan mendapatkan waktu selama satu tahun untuk memperdalam kemampuan bahasa Mandarin hingga mencapai tingkat dasar yang dipersyaratkan dalam program, yaitu A1. Ketentuan ini menjadi bagian penting dari skema Taiwan Intense Program karena kemampuan bahasa dipandang sebagai bekal akademik sekaligus bekal adaptasi di lingkungan sosial dan industri.

Daffa menjelaskan bahwa peserta memang diwajibkan mencapai kemampuan bahasa Mandarin minimal A1 dalam kurun satu tahun. Ia memandang target tersebut sebagai tantangan yang realistis, meskipun ia memulai dari nol. Menurutnya, proses belajar bahasa ini justru menjadi bagian dari perjalanan yang harus dijalani secara bertahap seiring dengan penyesuaian diri di Taiwan.

“Dalam program ini kami memang diwajibkan bisa bahasa Mandarin minimal A1, dan dikasih waktu satu tahun untuk belajar. Kalau dalam satu tahun itu belum sampai A1, konsekuensinya nanti harus membiayai sendiri. Jadi memang harus serius dari awal,” kata Daffa.

Keberanian Mencoba dan Harapan ke Depan

Daffa mengakui bahwa sebelum mengikuti program ini ia belum pernah bepergian ke luar negeri. Ia juga memulai pembelajaran bahasa Mandarin dari dasar. Meski demikian, ia tidak menjadikan keterbatasan awal itu sebagai alasan untuk mundur. Ia memilih fokus pada proses, menyiapkan diri, dan berani mencoba.

“Berani mencoba, dan wujudkan niatan tersebut. Jangan disia-siakan,” ujar Daffa.

Pesan tersebut mencerminkan sikap yang ia pegang sejak awal. Ia juga menekankan pentingnya mencari informasi sebanyak mungkin, membangun jaringan dengan sesama peminat program, dan melakukan riset yang mendalam tentang negara tujuan, sistem pendidikan, serta peluang yang tersedia.

Keberhasilan Muhamad Daffa Miqoilla memperlihatkan bahwa peluang studi internasional dapat dicapai melalui kombinasi antara kesiapan, keberanian, dan dukungan akademik yang tepat. Melalui Taiwan Steel University of Science and Technology, Daffa kini memasuki tahap baru dalam perjalanan akademiknya. Pada saat yang sama, kisahnya menjadi contoh bahwa mahasiswa Universitas AMIKOM Yogyakarta dapat membangun masa depan global tanpa melepaskan tanggung jawab akademik yang sedang dijalani.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration WIth : Muhamad Daffa Miqoilla
Koresponden: Arief Setyanto, Kusrini