BPC Podcast INTERPENSI 06 – Muhammad Faiz Rahman, S.Kom

7 March 2026 | Berita Utama

Business Placement Center dan Alumni (BPC) Universitas AMIKOM Yogyakarta kembali menghadirkan INTERPENSI (Interaksi Penuh Inspirasi) sebagai program podcast inspiratif yang dirancang untuk menjadi ruang berbagi gagasan, refleksi, dan motivasi bagi mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas. Dikemas dalam format obrolan santai namun berbobot, program ini menjadi salah satu inisiatif BPC untuk menghadirkan konten yang tidak hanya relevan dengan pengembangan karier, tetapi juga membuka wawasan lintas bidang, termasuk isu-isu strategis yang berkaitan dengan teknologi, keamanan, dan dinamika global. Dalam rangkaian episode Ramadan, INTERPENSI hadir sebagai teman ngabuburit virtual yang mengajak audiens menikmati diskusi penuh makna melalui siaran langsung di kanal digital BPC.

Muhammad Faiz Rahman, S.Kom – Teknologi, Perang, dan Masa Depan Pertahanan Modern

Pada episode keenam, INTERPENSI menghadirkan Muhammad Faiz Rahman, S.Kom, alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta yang saat ini aktif sebagai pemerhati pertahanan sekaligus konsultan teknologi bagi sejumlah perusahaan pertahanan swasta. Dengan ruang lingkup kerja yang telah menjangkau level nasional, Faiz hadir membawa perspektif yang kuat dalam membaca hubungan antara perkembangan teknologi dan sistem pertahanan modern. Latar belakangnya di bidang teknologi, yang dipadukan dengan ketertarikan mendalam terhadap isu pertahanan, menjadikan pembahasannya tidak hanya informatif, tetapi juga relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah dunia digital yang semakin kompleks.

Dalam podcast bertema “Perang & Pertahanan”, Faiz menegaskan bahwa keterlibatan teknologi dalam dunia militer sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, sejak manusia mengenal konflik, teknologi selalu menjadi bagian dari peperangan, hanya bentuknya yang berubah sesuai zaman. Dari batu dan kayu, berkembang menjadi tombak, pedang, senjata api, tank, pesawat tempur, hingga drone dan sistem siber. Yang membedakan setiap era adalah bagaimana masing-masing pihak berusaha meraih keunggulan teknologi agar mampu memenangkan konflik. “Kita nggak mungkin perang untuk nyari kalah, kita perang untuk nyari menang,” ujarnya. Karena itu, perkembangan teknologi pertahanan tidak pernah berhenti, sebab setiap negara akan selalu berusaha memiliki kemampuan yang lebih unggul dibanding pihak lain.

Faiz juga menjelaskan bahwa banyak teknologi yang hari ini dinikmati masyarakat sipil pada awalnya justru lahir dari kebutuhan militer. Internet, GPS, radar, roket, bahkan berbagai inovasi dalam komunikasi dan navigasi, berkembang dari rekayasa pertahanan sebelum akhirnya digunakan secara luas di kehidupan sehari-hari. Dalam konteks perang modern, ia menyoroti bagaimana drone menjadi salah satu simbol paling nyata dari perubahan strategi militer saat ini. Menurutnya, penggunaan drone dalam perang bukan hal baru, tetapi yang berubah adalah sistem kontrol, kecerdasan, dan efektivitas operasionalnya. Ia memberi contoh bagaimana drone tidak lagi hanya dikendalikan dari jarak jauh, tetapi sudah dilengkapi teknologi pengenalan citra, koordinasi otomatis, dan algoritma serangan yang membuatnya semakin presisi.

Selain drone, Faiz juga membahas rudal balistik, sistem pertahanan udara, kapal induk, hingga pesawat tempur modern. Menurutnya, kompleksitas teknologi pertahanan modern tidak terletak semata pada daya ledaknya, tetapi pada sistem navigasi, kecerdasan kendali, dan integrasi antarsistem yang memungkinkan senjata tersebut bekerja secara akurat. Ia menjelaskan bahwa pada masa depan, pertahanan udara tidak hanya ditentukan oleh jumlah alutsista, tetapi juga oleh kemampuan mendeteksi, merespons, dan mengoordinasikan ancaman dengan cepat. Dalam konteks Indonesia, ia menyebut bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada teknologi itu sendiri, tetapi juga pada kapasitas produksi, kesiapan sistem, dan pembangunan infrastruktur pendukung seperti satelit pertahanan dan sistem kendali yang lebih mandiri.

Menariknya, Faiz menilai bahwa dalam 10 tahun ke depan, faktor paling menentukan dalam sistem pertahanan bukan hanya senjata fisik, melainkan teknologi siber dan perang digital. Menurutnya, perang masa kini semakin bergeser ke medium siber, di mana serangan dapat dilakukan bukan hanya dengan rudal, tetapi juga melalui gangguan sistem navigasi, peretasan, disinformasi, dan pelemahan infrastruktur digital. Ia mencontohkan bagaimana perang siber dan perang elektronika kini sudah memainkan peran nyata dalam konflik modern, termasuk melalui GPS spoofing dan serangan digital terhadap sistem vital negara lawan. Dari sini, terlihat bahwa medan perang modern tidak lagi hanya berada di darat, laut, dan udara, tetapi juga di jaringan dan sistem informasi.

Pada bagian akhir, Faiz mengajak generasi muda untuk tidak membatasi diri hanya pada bidang keilmuan yang dipelajari secara formal di kampus. Menurutnya, pengembangan diri dan eksplorasi lintas pengetahuan justru menjadi kunci untuk menemukan ruang kontribusi yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa semasa kuliah, seseorang tidak boleh hanya puas dengan ilmu di jurusannya saja, tetapi juga perlu memperluas wawasan melalui literasi, berita, riset, dan konten-konten yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dari pengalaman pribadinya, ia menghubungkan latar belakang teknologi informasi dengan passion di bidang pertahanan, hingga akhirnya mampu menekuni irisan keilmuan yang sangat spesifik. Pandangan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa di era sekarang, masa depan tidak hanya dibentuk oleh apa yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga oleh kemauan untuk terus belajar dan mengeksplorasi hal-hal baru.

Bagi audiens yang ingin menyimak pembahasan lengkapnya, video podcast INTERPENSI dapat ditonton lebih lanjut melalui tautan YouTube yang akan dilampirkan pada bagian akhir artikel ini.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden: Puji Ariningsih