BPC Podcast INTERPENSI 04 – Firza Aditya Primandani, S.Kom

7 March 2026 | Berita Utama

Business Placement Center dan Alumni (BPC) Universitas AMIKOM Yogyakarta kembali menghadirkan INTERPENSI (Interaksi Penuh Inspirasi) sebagai program podcast inspiratif yang dirancang untuk menjadi ruang berbagi gagasan, refleksi, dan motivasi bagi mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas. Dikemas dalam format obrolan santai namun berbobot, program ini menjadi salah satu inisiatif BPC untuk menghadirkan konten yang tidak hanya relevan dengan pengembangan karier, tetapi juga membuka wawasan tentang perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, serta kesiapan talenta muda menghadapi era digital. Dalam rangkaian episode Ramadan, INTERPENSI hadir sebagai teman ngabuburit virtual yang mengajak audiens menikmati diskusi penuh makna melalui siaran langsung di kanal digital BPC.

Firza Aditya Primandani: Programmer Kalah Sama AI?

Pada episode keempat, INTERPENSI menghadirkan Firza Aditya Primandani, S.Kom, yang saat ini berkecimpung di bidang teknologi informasi di lingkungan rumah sakit, dengan pembahasan bertema “Programmer Kalah Sama AI.”. Firza merupakan alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta yang memiliki pengalaman panjang di bidang teknologi informasi, khususnya dalam pengembangan dan pengelolaan sistem di sektor kesehatan. Ia mengawali kariernya sebagai programmer setelah lulus kuliah, kemudian bergabung dengan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada sejak 2010. Seiring perjalanan kariernya, Firza tidak hanya terlibat dalam pengembangan aplikasi, tetapi juga berperan sebagai analis yang menjembatani kebutuhan teknis dengan kebutuhan medis. Latar belakang ini membuat pandangannya relevan dalam membahas hubungan antara profesi programmer dan perkembangan AI, karena ia melihat langsung bagaimana teknologi digunakan dalam sistem yang menuntut akurasi, integrasi, dan tanggung jawab tinggi.

Dalam perbincangan tersebut, Firza menegaskan bahwa kemunculan AI tidak seharusnya dilihat sebagai ancaman yang langsung menggantikan peran programmer, melainkan sebagai alat bantu yang dapat memperkuat proses kerja. Menurutnya, AI akan jauh lebih bermanfaat bila diposisikan sebagai “teman diskusi” untuk membantu memecahkan masalah, bukan sebagai pengganti penuh manusia. “Jangan dijadikan sebagai musuh atau mungkin hambatan, justru kalau bisa dijadikan sebagai teman,” ujarnya.

Menurut Firza, ada bagian penting dari dunia pemrograman yang tetap tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh AI, yaitu logika, sudut pandang, dan kemampuan memahami kebutuhan nyata pengguna. Ia menjelaskan bahwa AI memang dapat membantu menghasilkan kode, memberi solusi atas error, atau mempercepat proses teknis tertentu, tetapi hasil akhirnya tetap membutuhkan penilaian manusia. Dalam konteks sistem yang kompleks, terutama di sektor kesehatan, sebuah aplikasi tidak cukup hanya “berjalan”, tetapi juga harus benar-benar sesuai kebutuhan, aman, terhubung dengan sistem lain, dan mudah dirawat dalam jangka panjang. Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan problem solving tetap menjadi inti utama seorang programmer. “Yang pasti dari logika kita, sudut pandang kita, itu yang nggak bisa digantikan,” jelasnya.

Lebih jauh, Firza mengingatkan mahasiswa dan talenta muda di bidang teknologi agar tidak merasa minder menghadapi perkembangan AI. Menurutnya, yang perlu dilakukan bukan berhenti belajar coding, melainkan menggabungkan kemampuan dasar pemrograman dengan pemahaman baru seperti prompt engineering, database, dan pemanfaatan tools AI secara tepat. Ia menilai basic programming justru harus terus diasah karena dari sanalah cara berpikir, alur penyelesaian masalah, dan kreativitas seseorang dapat terlihat. Di dunia industri, perusahaan tidak selalu mencari programmer yang sempurna sejak awal, tetapi mereka yang memiliki dasar kuat, logika yang baik, dan kemauan untuk terus belajar. “Yang penting dia punya basic programmer, dia punya logika yang bagus, kemudian kami akan mengasah lagi di sini,” ungkapnya.

Dalam diskusi tersebut, Firza juga menyoroti pentingnya soft skill, terutama komunikasi, kemampuan berdiskusi, dan kemauan untuk berkembang di luar kemampuan teknis. Menurutnya, seseorang yang hanya kuat di depan layar tetapi kurang mampu membangun relasi sering kali lebih mudah terlewat dalam perkembangan karier. Karena itu, mahasiswa IT tidak cukup hanya fokus pada coding, tetapi juga perlu memperbanyak proyek, portofolio, pengalaman praktikum, serta membangun kedekatan dengan dosen dan lingkungan kampus. Dari pengalamannya sebagai alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta, ia menyebut bahwa hal-hal seperti personal branding, eksplorasi di luar kelas, hingga keterlibatan sebagai asisten praktikum menjadi bekal penting yang ikut membentuk perjalanan kariernya. Baginya, keberhasilan tidak hanya datang dari kemampuan teknis, tetapi juga dari arah tujuan yang jelas dan konsistensi untuk terus bertumbuh. “AI itu tools. Yang kalah bukan programmer-nya, yang kalah adalah yang nggak mau berkembang,” menjadi penegasan utama dari tema yang dibahas pada episode ini.

Bagi audiens yang ingin menyimak pembahasan lengkapnya, video podcast INTERPENSI dapat ditonton lebih lanjut melalui tautan YouTube berikut ini:

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Puji Ariningsih