
Business Placement Center dan Alumni (BPC) Universitas AMIKOM Yogyakarta menghadirkan INTERPENSI (Interaksi Penuh Inspirasi) sebagai program podcast inspiratif yang dirancang untuk menjadi ruang berbagi gagasan, refleksi, dan motivasi bagi mahasiswa, alumni, serta masyarakat luas. Dikemas dalam format obrolan santai namun berbobot, program ini menjadi salah satu inisiatif BPC untuk menghadirkan konten yang tidak hanya relevan dengan pengembangan karier, tetapi juga membuka wawasan tentang studi lanjut, peluang global, dan penguatan kapasitas diri. Dalam momentum Ramadan, INTERPENSI hadir sebagai teman ngabuburit virtual yang mengajak audiens menikmati diskusi penuh makna melalui siaran langsung di kanal digital BPC.
Satya Abdul Halim Bahtiar: Terbang ke Negeri Sakura Jalur Beasiswa
Pada episode kedua, INTERPENSI menghadirkan Satya Abdul Halim Bahtiar, M.Kom, alumni Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta yang saat ini sedang menempuh studi S3 di Jepang melalui jalur beasiswa. Sebelum melanjutkan studi doktoralnya, Satya juga sempat bergabung di Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta, sehingga pengalamannya tidak hanya dibentuk oleh latar akademik, tetapi juga oleh keterlibatan langsung dalam lingkungan kerja kampus.
Dalam podcast bertema “Terbang ke Negeri Sakura Jalur Beasiswa”, Satya membagikan pengalaman pribadinya tentang proses meraih kesempatan belajar di luar negeri, mulai dari mimpi awal, kegagalan yang sempat dialami, strategi mempersiapkan diri, hingga pelajaran hidup yang ia dapatkan selama berada di Jepang. Kehadirannya menjadi gambaran nyata bahwa peluang studi internasional dapat diraih oleh siapa saja yang mau mencoba, belajar, dan terus mempersiapkan diri.
Menurut Satya, mimpi untuk melanjutkan studi ke Jepang tumbuh dari ketertarikannya pada budaya Jepang sejak kecil, namun langkah nyata baru benar-benar dimulai ketika ia melihat peluang beasiswa yang dibuka melalui jejaring kerja sama Universitas AMIKOM Yogyakarta. Ia mengaku tidak langsung berhasil pada percobaan pertama, tetapi justru dari kegagalan itulah ia belajar mengevaluasi diri dan membangun kesiapan yang lebih matang. “Kalau kita mencoba sesuatu, pilihannya dua: gagal atau sukses. Tapi kalau kita nggak nyoba, pasti gagal,” ujarnya. Baginya, proses seleksi beasiswa harus dilihat sebagai ruang belajar, karena setiap kegagalan memberi petunjuk tentang apa yang perlu diperbaiki, baik dari sisi administrasi, dokumen, kemampuan bahasa, maupun portofolio yang relevan dengan bidang studi yang dituju.
Lebih jauh, Satya menjelaskan bahwa salah satu kunci penting untuk bisa bersaing di jalur beasiswa luar negeri adalah kesiapan yang dibangun sejak awal. Ia menekankan pentingnya melakukan riset menyeluruh terhadap jenis beasiswa, persyaratan, kampus tujuan, hingga profesor atau laboratorium yang relevan dengan minat studi calon pendaftar. Selain itu, dokumen pendukung, kemampuan bahasa Inggris, serta pengalaman yang linier dengan bidang tujuan juga menjadi bagian penting yang tidak bisa disepelekan. Dalam pandangannya, banyak orang sebenarnya memiliki keinginan besar, tetapi belum menyiapkan diri secara serius untuk menjadi kandidat yang layak dipilih. “Teman-teman pengen dipilih, tapi tidak mempersiapkan dirinya untuk terpilih,” ungkapnya, menegaskan bahwa peluang akan lebih mudah diraih oleh mereka yang berani memulai lebih dulu dan menata persiapannya dengan sungguh-sungguh.
Tak hanya berbicara soal beasiswa, Satya juga membagikan refleksi tentang kehidupan kampus dan budaya di Jepang. Ia menilai pengalaman studi di luar negeri bukan hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga melatih kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan kepercayaan diri di lingkungan internasional. Meski terdapat tantangan seperti language barrier, perbedaan budaya, hingga penyesuaian dengan cuaca dan makanan, ia mengingatkan bahwa mahasiswa Indonesia tidak perlu merasa kecil di hadapan dunia luar. Menurutnya, keberanian untuk belajar, kemampuan beradaptasi, dan mental yang terus bertumbuh justru menjadi modal besar untuk bertahan dan berkembang. Pada bagian penutup, Satya juga menegaskan bahwa nilai-nilai yang ia peroleh selama berkuliah di Universitas AMIKOM Yogyakarta, seperti proposing culture, learning culture, caring culture, dan enjoyment culture, menjadi fondasi penting dalam perjalanannya sampai ke Jepang. “Kesempatan itu akan datang kepada orang yang siap, maka siapkanlah dirimu untuk menjemput kesempatan,” pesannya kepada audiens.
Bagi audiens yang ingin menyimak pembahasan lengkapnya, video podcast INTERPENSI # 2 dapat ditonton lebih lanjut melalui Link YouTube berikut ini:
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
Koresponden : Puji Ariningsih




