Di tengah hangatnya perbincangan tentang beasiswa LPDP, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah esensi utama program ini: investasi jangka panjang untuk pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Sejak diluncurkan, LPDP telah membuka jalan bagi ribuan putra-putri terbaik bangsa untuk menempuh studi luar negeri, memperluas wawasan, dan kembali berkontribusi bagi tanah air.
Salah satu bukti nyatanya adalah pengalaman Aditya Maulana Hasymi, S.IP., M.A., dosen Amikom yang pernah menempuh studi magister di University of Liverpool, Inggris, pada tahun 2015 melalui beasiswa LPDP. Pengalaman satu tahun di Liverpool tersebut tidak hanya memperkaya kapasitas akademiknya, tetapi juga membentuk cara berpikir, cara belajar, hingga perspektif global yang kini ia terapkan dalam bidang yang ia tekuni saat ini.
Awal Perjalanan: Dari Indonesia ke Liverpool
Melalui beasiswa LPDP, Aditya berkesempatan melanjutkan studi S2 di Inggris dengan durasi satu tahun, format khas program master di UK. Seluruh kebutuhan akademik dan penunjang studi difasilitasi secara menyeluruh, memungkinkan dirinya fokus penuh pada pembelajaran.
“LPDP itu membuat kita benar-benar fokus belajar. Semua kebutuhan utama sudah difasilitasi.”
Namun, kemudahan fasilitas bukan berarti tanpa tantangan. Setibanya di Liverpool, tantangan pertama yang ia rasakan adalah adaptasi bahasa. Meskipun telah mempelajari bahasa Inggris sejak sekolah, Aditya menyadari bahwa praktik di lapangan sangat berbeda. Bahasa Inggris akademik dan percakapan sehari-hari di Inggris, khususnya dengan aksen khas Liverpool (Scouse), membutuhkan penyesuaian.
“Bahasa Inggris yang diajarkan di Indonesia ternyata berbeda jauh dengan yang digunakan sehari-hari di sana.”
Di kelasnya, Aditya menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia. Teman-temannya berasal dari berbagai negara seperti China, Timur Tengah, Jerman, dan Inggris. Interaksi lintas budaya ini menjadi pengalaman yang sangat membentuk dirinya.
Diskusi akademik tidak lagi hanya berpusat pada sudut pandang Barat, tetapi juga memberi ruang bagi perspektif Asia dan wilayah lain. Ia menyadari bahwa membawa sudut pandang Indonesia dalam diskusi justru diapresiasi. Pengalaman ini memperluas cara pandangnya tentang politik global, toleransi, dan dinamika internasional. Dunia tidak lagi dipandang dari satu perspektif, melainkan dari banyak sudut yang saling melengkapi.
“Membuka wawasan itu penting. Ketika bertemu banyak orang dari berbagai negara, kita jadi tahu perspektif yang berbeda.”
Interaksi lintas budaya ini juga membangun toleransi dan empati yang lebih dalam. Sebagai Muslim, ia merasakan bahwa kehidupan di Liverpool sangat inklusif. Tersedia masjid, makanan halal, hingga fleksibilitas waktu untuk ibadah.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap stereotip dan memperluas wawasan global. Ia menyadari bahwa dunia jauh lebih luas dari yang dibayangkan.
“Dunia itu luas, dan kita harus melihatnya sendiri,” ujarnya.
Mengintegrasikan Pengalaman Global ke Pembelajaran di AMIKOM
Setelah menyelesaikan studi, Aditya kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dosen AMIKOM. Ia membawa nilai-nilai yang dipelajarinya di Inggris ke dalam ruang kelas. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan berani menyampaikan pendapat. Budaya berpikir kritis (critical thinking) yang ia alami di UK kini ia terapkan dalam proses pembelajaran di AMIKOM.
“Mahasiswa yang berani berpendapat harus diapresiasi.”
Ia juga semakin memahami bahwa mahasiswa memiliki latar belakang yang beragam. Karena itu, pendekatan pengajarannya menjadi lebih fleksibel dan inklusif tanpa mengurangi standar akademik. Budaya egaliter yang ia alami di Liverpool—di mana dosen dan mahasiswa berinteraksi tanpa jarak berlebihan—menginspirasi cara berkomunikasinya di kelas.
Bagi Aditya, inilah bentuk nyata investasi beasiswa LPDP: pengalaman global yang diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas pembelajaran di Indonesia.
Pesan untuk Mahasiswa AMIKOM yang Ingin Raih Beasiswa LPDP
Bagi mahasiswa dan alumni Universitas AMIKOM Yogyakarta, peluang untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, seperti melalui beasiswa LPDP, selalu terbuka lebar. Tidak mudah memang, namun di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Aditya menyadari bahwa banyak mahasiswa merasa ragu untuk mendaftar beasiswa LPDP karena menganggap proses seleksinya sangat kompetitif. Ada yang merasa IPK belum cukup tinggi, ada yang minder karena berasal dari kampus swasta, dan ada pula yang takut gagal sebelum mencoba. Padahal, menurutnya, ketakutan terbesar sering kali bukan pada sistem seleksi, melainkan pada keraguan diri sendiri.
“Jangan bikin batasan di diri sendiri. Coba dulu,” ujarnya.
Keberanian untuk mencoba adalah langkah awal. Namun tentu saja, keberanian saja tidak cukup. Diperlukan persiapan yang matang dan pemahaman yang utuh tentang karakter beasiswa yang dituju.
Salah satu pelajaran penting yang ia peroleh dari pengalamannya mendaftar LPDP adalah memahami filosofi program tersebut. LPDP bukan sekadar beasiswa pembiayaan pendidikan. Program ini merupakan investasi negara untuk mencetak calon pemimpin masa depan yang mau kembali dan memberi kontribusi bagi Indonesia. Karena itu, ketika menulis esai atau mengikuti wawancara, penting untuk menunjukkan rencana yang masuk akal, sesuai dengan latar belakang, dan dapat dijelaskan tahap demi tahap. LPDP mencari komitmen yang realistis, bukan janji yang bombastis.
Kemampuan bahasa Inggris juga menjadi kunci penting, terutama untuk jalur studi luar negeri. Pengalaman di Liverpool membuatnya menyadari bahwa bahasa bukan sekadar syarat administratif seperti skor IELTS. Bahasa adalah alat utama untuk memahami materi, berdiskusi, dan membangun relasi internasional. Oleh karena itu, persiapan bahasa sebaiknya dilakukan jauh hari, bukan menjelang masa pendaftaran.
“Skor itu pintu masuk. Tapi kemampuan berkomunikasi adalah kunci untuk bertahan.”
Selain esai dan kemampuan bahasa, aspek lain yang tak kalah penting adalah rekam jejak. Prestasi akademik tentu menjadi fondasi utama. Namun di luar itu, pengalaman organisasi, kepemimpinan, kegiatan sosial, atau proyek profesional akan memperkaya profil pendaftar. LPDP melihat calon penerima sebagai individu yang utuh—bukan hanya angka IPK, tetapi juga karakter dan kapasitas kepemimpinan.
Mahasiswa AMIKOM berada dalam ekosistem yang sangat mendukung pengembangan diri. Kampus dengan lingkungan teknologi, kreativitas, dan inovasi menyediakan ruang luas untuk bertumbuh. Mengikuti riset dosen, aktif dalam organisasi, atau terlibat dalam proyek digital dapat menjadi bagian dari perjalanan yang bernilai saat proses seleksi.
“Semua itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Karena itu, persiapkan dirimu jauh-jauh hari sebelum masa pendaftaran,” ujarnya.
Jika masih ragu untuk mendaftar beasiswa LPDP atau beasiswa lainnya, Aditya menyarankan untuk memulai dari langkah kecil. Cari informasi sebanyak mungkin, berdiskusi dengan dosen, siapkan kemampuan bahasa, dan mulai menyusun rencana kontribusi secara bertahap.
“Keberanian klik submit itu sudah membuka peluang.”
Tidak ada kandidat yang benar-benar siap seratus persen. Yang ada adalah mereka yang mau belajar, memperbaiki diri, dan berani mengambil kesempatan.
Mahasiswa dan alumni AMIKOM memiliki potensi yang sama dengan mahasiswa dari kampus mana pun. Lingkungan yang kreatif dan berbasis teknologi di AMIKOM justru dapat menjadi keunggulan tersendiri jika dimanfaatkan secara maksimal.
Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional
In Collaboration WIth : Aditya Maulana Hasymi




