Kuliah Umum Bank Indonesia Bahas Quality Tourism Inklusif

14 January 2026 | Berita Utama

Himpunan Mahasiswa Ekonomi (HIME) AMIKOM bekerja sama dengan Bank Indonesia menggelar Kuliah Umum bertema “Peran Bank Indonesia dalam Mewujudkan Quality Tourism melalui Digitalisasi Ekonomi yang Inklusif”, Selasa (13/1/2026), di Ruang Citra 1 Gedung Unit 2. Agenda yang diikuti oleh mahasiswa Prodi Ekonomi ini menghadirkan Arya Jodilisfyo, Kepala Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) Provinsi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY, sebagai narasumber utama.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas AMIKOM Yogyakarta, Emha Taufiq Luthfi, S.T., M.Kom., Ph.D., menegaskan bahwa kuliah umum menjadi ruang penting untuk menjembatani teori yang dipelajari mahasiswa di kelas dengan praktik kebijakan ekonomi di lapangan. Ia menekankan bahwa mahasiswa perlu memahami bagaimana konsep ekonomi diterapkan dalam pengambilan kebijakan, khususnya pada sektor strategis seperti pariwisata.

“Mahasiswa jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Materi yang disampaikan langsung oleh praktisi kebijakan seperti Bank Indonesia memberi gambaran nyata bagaimana teori ekonomi bekerja dalam konteks pembangunan daerah,” ujar Emha.

Pada sesi utama, Arya Jodilisfyo menjelaskan bahwa pariwisata memiliki peran sangat besar dalam struktur perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan pemetaan Bank Indonesia, lebih dari 60 persen aktivitas ekonomi di DIY berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan sektor pariwisata, mulai dari perdagangan, transportasi, industri pengolahan, hingga UMKM. Namun demikian, ia menekankan bahwa Yogyakarta saat ini masih menghadapi tantangan berupa dominasi pariwisata berbasis kuantitas, bukan kualitas.

“Jumlah wisatawan yang tinggi belum tentu berdampak optimal jika tidak diikuti peningkatan kualitas belanja dan lama tinggal wisatawan. Inilah yang menjadi tantangan utama pariwisata Yogyakarta saat ini,” jelas Arya.

Ia juga menyoroti fenomena menurunnya length of stay wisatawan di Yogyakarta yang dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol, yang memungkinkan wisatawan hanya singgah dalam waktu singkat. Kondisi tersebut, menurutnya, harus direspons dengan strategi pariwisata yang adaptif dan berdaya saing agar tetap memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.

Sebagai solusi, Bank Indonesia mendorong pengembangan quality tourism melalui penguatan desa wisata dan agrowisata. Pendekatan ini dinilai mampu mengintegrasikan sektor pariwisata dengan pertanian, ketahanan pangan, serta pemberdayaan masyarakat, sehingga perekonomian daerah tidak bergantung pada satu sektor semata.

Selain itu, Arya menegaskan pentingnya digitalisasi ekonomi dalam mendukung pariwisata yang inklusif. Pemanfaatan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS dinilai mampu meningkatkan efisiensi transaksi, transparansi, serta kenyamanan wisatawan dan pelaku usaha. Di Yogyakarta, penggunaan QRIS telah berkembang pesat dan diterapkan di berbagai sektor, termasuk UMKM, transportasi, hingga destinasi wisata.

“Digitalisasi bukan sekadar teknologi, tetapi alat untuk memperluas akses, meningkatkan daya saing, dan memastikan manfaat ekonomi dirasakan lebih merata,” kata Arya.

Menutup pemaparannya, Arya menekankan bahwa pembangunan pariwisata dan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi lintas sektor atau pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. Ia juga mengajak mahasiswa untuk berperan aktif sebagai generasi muda yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan teknologi.

Melalui kuliah umum ini, Universitas AMIKOM Yogyakarta berharap mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan peluang pembangunan pariwisata berbasis digital. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia akademik dan lembaga kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih berkualitas dan inklusif.

Fadya RY – Direktorat Kehumasan dan Urusan Internasional